Persahabatan itu bagaikan air
mengalir dimana sahabat-sahabat saling mengerti apa permasalahan yang sedang
dihadapi oleh salah satu dari mereka. Dalam persahabatan tidaklah luput dari
perbedaan pendapat, bahkan sering terjadi kesalahpahaman dalam menilai satu
sama lain. Tetapi apapun yang jadi penilaian dalam persahabatan itu hanya
sebuah warna warni dalam dunia persahabatan. Keseharian yang biasanya bercanda
bersama, itu mungkin terasa hilang ketika harus ada perpisahan, perpisahan yang mungkin kita tidak
tahu apa tujuan dari perpisahan itu. Namun kelak suatu hari persahabatan sejati
itu akan bersatu lagi bagaikan bulan dan bintang yang tidak memandang siapa
yang indah, namun tetap setia menerangi malam yang begitu sunyi.
Kerinduan akan sahabat-sahabat itu
bagaikan kekeringan dipadang pasir yang begitu haus akan air. Sebuah
persahabatan tidak akan pernah terhapuskan oleh cengkraman-cengkraman
perbedaan. Seperti apapun orang yang telah menjadi sahabat mu, itulah dia baik itu orang yang serba
berkecukupan, bahkan orang yang tidak berkecukupan. Waktu terkadang menjadi
penghalang bagi para sahabat untuk
saling bertemu. Tapi perasaan tidak akan pernah terhalang oleh apapun. Ketika
kita merindukan sahabat yang mungkin jauh dari jangkauan kita mungkin kita akan
menyampaikan kerinduan kita lewat air mata yang tak seorangpun tahu. Air mata
itulah yang akan menjadi saksi kerinduan terhadap para sahabat yang mungkin
sedang berjuang dalam menempuh jalan hidupnya masing-masing.
Persahabatan itu bagaikan
gelombang air laut. Terkadang ada saatnya naik dan terkadang ada saatnya turun.
Begitu juga dengan persahabatan, terkadang berkumpul bahkan terkadang bercanda
bersama-sama. Dan ada saatnya persahabatan itu harus terpisah oleh kesibukan
dan tujuan hidup masing-masing. Bahkan pada suatu hari nanti diantara
sahabat-sahabat itu mungkin tidak lagi tahu keberadaan beberapa orang
sahabatnya. Disaat itulah hati mulai binggung apa yang harus dilakukan agar
dapat bertemu dengan sahabat lama itu. Pada saat itulah akan muncul rasa penyesalan
tentang sikap-sikap dan tingkah laku yang buruk terhadap sahabat-sahabat
dimasa-masa yang telah dilalui bersama.
Persahabatan itu ibaratkan kita
berada di sebuah gunung, ketika kita disana kita tidak merasakan bahwa gunung
itu indah, hijau dan cerah. Tetapi ketika kita berada di sebuah gunung yang
lain dan memandang gunung itu barulah kita sadar dan melihat bahwa gunung itu
begitu indah, begitu menawan bahkan begitu hijau. Kebanyakan dari kita tidak
mengerti apa itu persahabatan sejati, tetapi pada suatu saat kita akan mengerti
apa itu sahabat sejati, ketika kita tidak lagi bercanda, bermain bersama mereka,
tidak lagi berada disamping mereka, bahkan disaat kita sedih dan tak ada
seorang pun yang menghibur dan memotivasi kita disaat itulah kita sadar bahwa
persahabatan sejati itu adalah mereka yang dahulunya adalah orang yang selalu
menghibur, dan memotivasi kita ketika kita dalam keadaan sedih.
Kelak dimasa tua persahabatan
akan diakhiri oleh usia, usia yang tidak
memandang siapa dia seberapa kaya dia, bahkan seberapa terkenalnya dia. Kelak
kita hanya bisa membalas budi para sahabat kita bukan lagi dengan memotivasinya
atau menghiburnya, melainkan hanya dengan Doa.
Tidak ada lagi canda dan tawa dari wajah-wajah yang dahulunya selalu ceria.
Pada saat itulah kesadaran akan sahabat sejati akan sangat terasa. Pada saat
itulah akan tersadar bahwa semua yang telah terjadi tidak mungkin bisa diulang
kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar