Sabtu, 28 Juni 2014

P04 sikat miring



Persahabatan itu bagaikan air mengalir dimana sahabat-sahabat saling mengerti apa permasalahan yang sedang dihadapi oleh salah satu dari mereka. Dalam persahabatan tidaklah luput dari perbedaan pendapat, bahkan sering terjadi kesalahpahaman dalam menilai satu sama lain. Tetapi apapun yang jadi penilaian dalam persahabatan itu hanya sebuah warna warni dalam dunia persahabatan. Keseharian yang biasanya bercanda bersama, itu mungkin terasa hilang ketika harus ada  perpisahan, perpisahan yang mungkin kita tidak tahu apa tujuan dari perpisahan itu. Namun kelak suatu hari persahabatan sejati itu akan bersatu lagi bagaikan bulan dan bintang yang tidak memandang siapa yang indah, namun tetap setia menerangi malam yang begitu sunyi.
Kerinduan akan sahabat-sahabat itu bagaikan kekeringan dipadang pasir yang begitu haus akan air. Sebuah persahabatan tidak akan pernah terhapuskan oleh cengkraman-cengkraman perbedaan. Seperti apapun orang yang telah menjadi sahabat mu,  itulah dia baik itu orang yang serba berkecukupan, bahkan orang yang tidak berkecukupan. Waktu terkadang menjadi penghalang bagi para sahabat  untuk saling bertemu. Tapi perasaan tidak akan pernah terhalang oleh apapun. Ketika kita merindukan sahabat yang mungkin jauh dari jangkauan kita mungkin kita akan menyampaikan kerinduan kita lewat air mata yang tak seorangpun tahu. Air mata itulah yang akan menjadi saksi kerinduan terhadap para sahabat yang mungkin sedang berjuang dalam menempuh jalan hidupnya masing-masing.
Persahabatan itu bagaikan gelombang air laut. Terkadang ada saatnya naik dan terkadang ada saatnya turun. Begitu juga dengan persahabatan, terkadang berkumpul bahkan terkadang bercanda bersama-sama. Dan ada saatnya persahabatan itu harus terpisah oleh kesibukan dan tujuan hidup masing-masing. Bahkan pada suatu hari nanti diantara sahabat-sahabat itu mungkin tidak lagi tahu keberadaan beberapa orang sahabatnya. Disaat itulah hati mulai binggung apa yang harus dilakukan agar dapat bertemu dengan sahabat lama itu. Pada saat itulah akan muncul rasa penyesalan tentang sikap-sikap dan tingkah laku yang buruk terhadap sahabat-sahabat dimasa-masa yang telah dilalui bersama.
Persahabatan itu ibaratkan kita berada di sebuah gunung, ketika kita disana kita tidak merasakan bahwa gunung itu indah, hijau dan cerah. Tetapi ketika kita berada di sebuah gunung yang lain dan memandang gunung itu barulah kita sadar dan melihat bahwa gunung itu begitu indah, begitu menawan bahkan begitu hijau. Kebanyakan dari kita tidak mengerti apa itu persahabatan sejati, tetapi pada suatu saat kita akan mengerti apa itu sahabat sejati, ketika kita tidak lagi bercanda, bermain bersama mereka, tidak lagi berada disamping mereka, bahkan disaat kita sedih dan tak ada seorang pun yang menghibur dan memotivasi kita disaat itulah kita sadar bahwa persahabatan sejati itu adalah mereka yang dahulunya adalah orang yang selalu menghibur, dan memotivasi kita ketika kita dalam keadaan sedih.
Kelak dimasa tua persahabatan akan diakhiri oleh usia, usia  yang tidak memandang siapa dia seberapa kaya dia, bahkan seberapa terkenalnya dia. Kelak kita hanya bisa membalas budi para sahabat kita bukan lagi dengan memotivasinya atau menghiburnya, melainkan hanya dengan Doa.  Tidak ada lagi canda dan tawa dari wajah-wajah yang dahulunya selalu ceria. Pada saat itulah kesadaran akan sahabat sejati akan sangat terasa. Pada saat itulah akan tersadar bahwa semua yang telah terjadi tidak mungkin bisa diulang kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar