OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN
SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh: Arbein Rambey
Dalam seminggu terakhir ini, Pemasangan iklan oleh Parbato atau pertungkoan batak Toba, sebuah organisasi kesukuan berisi ajakan masyarakat Toba diamana pun berada untuk mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pargosit. Adanya iklan di surat kabar Medan, munculnya pertanyaan tidaklah gerakan kesukuan merupakan langkah mundur di tengah arus Globalisasi yang sedemikian deras?. Hal ini ditentang oleh Ompu Monang yang memiliki nama asli Daniel Napitulu.Beliau berpendapat masalah di Indonesia hanya dapat didekati secara etnis dan pentingnya tiap etnis mempunyai kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk solidarias Indonesia secara keseluruhan.
Orang Batak Toba, merupakan orang yang memiliki watak keras, ceplas-ceplos,senang sekali bernyanyi dan berwajah khas dengan dagu persegi.Dalam kekerabatan Batak Toba memiliki sisi positif dan sisi negative. Di sisi Positifnya, terlihat dalam rasa tanggung jawab pada pendidikan anaknya sehinnga jarang sekali anak batak Toba terlantar oleh orang tuanya. Namun dibalik itu, sisi negativenya adalah menurut Ompu Monang yaitu dalam penghambuaran uang dan waktu. Misalnya pada upacara pernikahan. Acara keluarga dalam pesta perkawinan berlnagsung hingga lebih dari lima jam. Selain itu, adanya acara pengulosan. Masih pada acra perkawinan, begitu banyak kerabat yang memberi nasehat kepada kedua mempelai, hingga waktunya berjam-jam. Padahal menurut pandangan Ompu Monang, nasehat itu sama sekali tidak begitu berarti.Ditambah lagi pemborosan uang yang terlihat pada pembangunan makam-makam Batak Toba yang nilainya mencapai ratusan juta.
Penyelewengan-penyelewengan pada kebudayaan Batak Toba membuat hati Ompu Monang tergugah untuk mengadakan seminar-seminar. Namun hasilnya terbatas pada cetakan hasil seminar saja. Hal inilah yang membuat Ompu Monang mengorbankan dirinya dengan menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya secara efisien namun tidak keluar drai jalur adapt.Akhirnya pun Ompu Monang menambahkan , sebagai Parbato tidak hanya berbicara tapi melaksanakan apa yang dikatakan Parbato. Perbuatan nyata adalah nasehat yang baik.
Bacaan 2 :
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH
DAN MODANG DEWASA INI
Inventaris Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh : Franky Raden
Pada awal bulan Maret tahun lalu, penulus berangkat ke daerah pedalaman di Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan Kota Tenggarong, Kalimantan Timur dimana Suku Kenyah dan Modang berada untuk mempelajari kesenian. Akan tetapi kesenian daloam masyarakat mereka ternyata tidak bisa dilepaskan dari kontes gerak kehidupan sehari-hari.
Pemiskinan yang dihadapi oleh kedua suku Dayak ini, mereka hadapi dengan diawali menurunya penghasilan dari berlaang akibat perahu pedagang dan tengkulak yang menaikan harga barang. Faktor lain yang berperan yaitu berdirinya warung-warung yang dimiliki oleh suku pendatang dari Kutai, Bugis, Toraja yang membeli hasil pertanian mereka dengan sangat rendah. Kedua, masuknya budaya baru menyebabkan musnahnya inti sukama yang membangun seluruh struktur dan mekanisme kebudayaan dari mereka yaitu Lamin.dan kesenian tersebut menjadi terpisah dengan kebuadayaan mereka.Ketiga, pendidikan informal yang sudah diterapkan kepada anak-anak, kini sudah nyaris hilang akibat kebudayaan dari Kota.
Terciptanya kondisi-kondisi tersebut dalam kehidupan Suku Dayak tidak terlepas dari Tanggungjawab dari Pemerintah daerah yang menerima bahkan menganjurkan mereka hidup diwilayahnya.Selain itu proses Pemiskinan yang terjadi bukan hanya dalam konteks pemiskinan suatu kualitas dan ruang gerak kehidupan. Saat ini terjadi di Suku Dayak tidak lain dari sebuah proses pemusnahan eksistensi sekelompok manusia dalam dimensi cultural. Ini yang bisa menyeret mereka dalam bencana Tragis
Yang harus kita lakukan untuk menghadapi masalah ini adalah bagaimana kita mengerti an memahami Ketahanan Nasional sebagai Inner Security manusia-manusia Indonesia dalam ruang gerak kultur mereka. Bukan hanya ketahanan lapisan luar suatu strategi ekonomi, politik atau pemerintah. Jadi kita nhrus mempertahankan budaya asal kita supaya tidak terseret arus Globalisasi yang berdampak negative.
Analisis Bacaan
Bacaan 1 :
Unsur-unsur Kebudayaan
1. Sistim Teknolgi
i. Munculnya sistim pembuatan ulos secara mesin
ii. Pengaruh Munculnya Barang-barang baru yang modern
iii. Pembangunan Makam modern yang mahal
2. Sistim Ekonomi
i. Sistim Pertanian batak yang boros
ii. Penghambur-hamburan uang dan waktu untuk acara yang tidak begitu penting
3. Organisasi Sosial
i. Kekerabatan Batak Toba, dengan sub etnis, Angkola, Mandailing dll.
ii. Kelompok Parbato
4. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
5. Kesenian
i. Upacara Perkawinan
6. Sistim Religi
i. Tidak ada
7. Bahasa
i. Bahasa batak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pendapat Ompu Monang
2. Wujud Aktifitas :Pemikiran dan pengaplikasian pendapat Ompu monang
3. Wujud Fisik :Keputusan Ompu Monang,untuk melaksanakan upacara perkawinan yang sederhana.
c. Integrasi dan Diversitas : 1.-, 2. Upacara perkawinan anak Ompu Bacaan 2 :
Unsur-unsur Kebudayaan
8. Sistim Teknolgi
i. Kecendrungan dayak untuk bersifat moden
ii. Pola Konsumtif
iii. Manifestasi material kebudayaan modern
9. Sistim Ekonomi
i. Kemiskinan suku dayak,pertanian sbg unsur pokok ekonom
ii. Pemanifulasian arus ekonomi oleh suku pendatang
10. Organisasi Sosial
i. Suku Dayak Kenyah dan Suku Modang
11. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
12. Kesenian
i. Terpisah oleh kehidupan, lamin dan intfiltrasi kesenian.
13. Sistim Religi
i. Pengaruh dari agama-agama Pendatang
14. Bahasa
i. Bahasa dayak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pandangan Kedepan suku Dayak
2. Wujud Aktifitas :Prilaku konsumtif Suku dayak
3. Wujud Fisik :Sistim perekonomian Masyarakat suku Dayak.
c. Integrasi dan Diversitas :
1. Integrasi : Sistim Perekonomian Yang salah,
2. a.Agama Orang dayak
b.Prilaku Pola Konsumtif Suku Dayak untuk meniru Prilaku masyarakat kota.
SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh: Arbein Rambey
Dalam seminggu terakhir ini, Pemasangan iklan oleh Parbato atau pertungkoan batak Toba, sebuah organisasi kesukuan berisi ajakan masyarakat Toba diamana pun berada untuk mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pargosit. Adanya iklan di surat kabar Medan, munculnya pertanyaan tidaklah gerakan kesukuan merupakan langkah mundur di tengah arus Globalisasi yang sedemikian deras?. Hal ini ditentang oleh Ompu Monang yang memiliki nama asli Daniel Napitulu.Beliau berpendapat masalah di Indonesia hanya dapat didekati secara etnis dan pentingnya tiap etnis mempunyai kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk solidarias Indonesia secara keseluruhan.
Orang Batak Toba, merupakan orang yang memiliki watak keras, ceplas-ceplos,senang sekali bernyanyi dan berwajah khas dengan dagu persegi.Dalam kekerabatan Batak Toba memiliki sisi positif dan sisi negative. Di sisi Positifnya, terlihat dalam rasa tanggung jawab pada pendidikan anaknya sehinnga jarang sekali anak batak Toba terlantar oleh orang tuanya. Namun dibalik itu, sisi negativenya adalah menurut Ompu Monang yaitu dalam penghambuaran uang dan waktu. Misalnya pada upacara pernikahan. Acara keluarga dalam pesta perkawinan berlnagsung hingga lebih dari lima jam. Selain itu, adanya acara pengulosan. Masih pada acra perkawinan, begitu banyak kerabat yang memberi nasehat kepada kedua mempelai, hingga waktunya berjam-jam. Padahal menurut pandangan Ompu Monang, nasehat itu sama sekali tidak begitu berarti.Ditambah lagi pemborosan uang yang terlihat pada pembangunan makam-makam Batak Toba yang nilainya mencapai ratusan juta.
Penyelewengan-penyelewengan pada kebudayaan Batak Toba membuat hati Ompu Monang tergugah untuk mengadakan seminar-seminar. Namun hasilnya terbatas pada cetakan hasil seminar saja. Hal inilah yang membuat Ompu Monang mengorbankan dirinya dengan menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya secara efisien namun tidak keluar drai jalur adapt.Akhirnya pun Ompu Monang menambahkan , sebagai Parbato tidak hanya berbicara tapi melaksanakan apa yang dikatakan Parbato. Perbuatan nyata adalah nasehat yang baik.
Bacaan 2 :
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH
DAN MODANG DEWASA INI
Inventaris Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh : Franky Raden
Pada awal bulan Maret tahun lalu, penulus berangkat ke daerah pedalaman di Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan Kota Tenggarong, Kalimantan Timur dimana Suku Kenyah dan Modang berada untuk mempelajari kesenian. Akan tetapi kesenian daloam masyarakat mereka ternyata tidak bisa dilepaskan dari kontes gerak kehidupan sehari-hari.
Pemiskinan yang dihadapi oleh kedua suku Dayak ini, mereka hadapi dengan diawali menurunya penghasilan dari berlaang akibat perahu pedagang dan tengkulak yang menaikan harga barang. Faktor lain yang berperan yaitu berdirinya warung-warung yang dimiliki oleh suku pendatang dari Kutai, Bugis, Toraja yang membeli hasil pertanian mereka dengan sangat rendah. Kedua, masuknya budaya baru menyebabkan musnahnya inti sukama yang membangun seluruh struktur dan mekanisme kebudayaan dari mereka yaitu Lamin.dan kesenian tersebut menjadi terpisah dengan kebuadayaan mereka.Ketiga, pendidikan informal yang sudah diterapkan kepada anak-anak, kini sudah nyaris hilang akibat kebudayaan dari Kota.
Terciptanya kondisi-kondisi tersebut dalam kehidupan Suku Dayak tidak terlepas dari Tanggungjawab dari Pemerintah daerah yang menerima bahkan menganjurkan mereka hidup diwilayahnya.Selain itu proses Pemiskinan yang terjadi bukan hanya dalam konteks pemiskinan suatu kualitas dan ruang gerak kehidupan. Saat ini terjadi di Suku Dayak tidak lain dari sebuah proses pemusnahan eksistensi sekelompok manusia dalam dimensi cultural. Ini yang bisa menyeret mereka dalam bencana Tragis
Yang harus kita lakukan untuk menghadapi masalah ini adalah bagaimana kita mengerti an memahami Ketahanan Nasional sebagai Inner Security manusia-manusia Indonesia dalam ruang gerak kultur mereka. Bukan hanya ketahanan lapisan luar suatu strategi ekonomi, politik atau pemerintah. Jadi kita nhrus mempertahankan budaya asal kita supaya tidak terseret arus Globalisasi yang berdampak negative.
Analisis Bacaan
Bacaan 1 :
Unsur-unsur Kebudayaan
1. Sistim Teknolgi
i. Munculnya sistim pembuatan ulos secara mesin
ii. Pengaruh Munculnya Barang-barang baru yang modern
iii. Pembangunan Makam modern yang mahal
2. Sistim Ekonomi
i. Sistim Pertanian batak yang boros
ii. Penghambur-hamburan uang dan waktu untuk acara yang tidak begitu penting
3. Organisasi Sosial
i. Kekerabatan Batak Toba, dengan sub etnis, Angkola, Mandailing dll.
ii. Kelompok Parbato
4. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
5. Kesenian
i. Upacara Perkawinan
6. Sistim Religi
i. Tidak ada
7. Bahasa
i. Bahasa batak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pendapat Ompu Monang
2. Wujud Aktifitas :Pemikiran dan pengaplikasian pendapat Ompu monang
3. Wujud Fisik :Keputusan Ompu Monang,untuk melaksanakan upacara perkawinan yang sederhana.
c. Integrasi dan Diversitas : 1.-, 2. Upacara perkawinan anak Ompu Bacaan 2 :
Unsur-unsur Kebudayaan
8. Sistim Teknolgi
i. Kecendrungan dayak untuk bersifat moden
ii. Pola Konsumtif
iii. Manifestasi material kebudayaan modern
9. Sistim Ekonomi
i. Kemiskinan suku dayak,pertanian sbg unsur pokok ekonom
ii. Pemanifulasian arus ekonomi oleh suku pendatang
10. Organisasi Sosial
i. Suku Dayak Kenyah dan Suku Modang
11. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
12. Kesenian
i. Terpisah oleh kehidupan, lamin dan intfiltrasi kesenian.
13. Sistim Religi
i. Pengaruh dari agama-agama Pendatang
14. Bahasa
i. Bahasa dayak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pandangan Kedepan suku Dayak
2. Wujud Aktifitas :Prilaku konsumtif Suku dayak
3. Wujud Fisik :Sistim perekonomian Masyarakat suku Dayak.
c. Integrasi dan Diversitas :
1. Integrasi : Sistim Perekonomian Yang salah,
2. a.Agama Orang dayak
b.Prilaku Pola Konsumtif Suku Dayak untuk meniru Prilaku masyarakat kota.
OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN
SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh: Arbein Rambey
Dalam seminggu terakhir ini, Pemasangan iklan oleh Parbato atau pertungkoan batak Toba, sebuah organisasi kesukuan berisi ajakan masyarakat Toba diamana pun berada untuk mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pargosit. Adanya iklan di surat kabar Medan, munculnya pertanyaan tidaklah gerakan kesukuan merupakan langkah mundur di tengah arus Globalisasi yang sedemikian deras?. Hal ini ditentang oleh Ompu Monang yang memiliki nama asli Daniel Napitulu.Beliau berpendapat masalah di Indonesia hanya dapat didekati secara etnis dan pentingnya tiap etnis mempunyai kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk solidarias Indonesia secara keseluruhan.
Orang Batak Toba, merupakan orang yang memiliki watak keras, ceplas-ceplos,senang sekali bernyanyi dan berwajah khas dengan dagu persegi.Dalam kekerabatan Batak Toba memiliki sisi positif dan sisi negative. Di sisi Positifnya, terlihat dalam rasa tanggung jawab pada pendidikan anaknya sehinnga jarang sekali anak batak Toba terlantar oleh orang tuanya. Namun dibalik itu, sisi negativenya adalah menurut Ompu Monang yaitu dalam penghambuaran uang dan waktu. Misalnya pada upacara pernikahan. Acara keluarga dalam pesta perkawinan berlnagsung hingga lebih dari lima jam. Selain itu, adanya acara pengulosan. Masih pada acra perkawinan, begitu banyak kerabat yang memberi nasehat kepada kedua mempelai, hingga waktunya berjam-jam. Padahal menurut pandangan Ompu Monang, nasehat itu sama sekali tidak begitu berarti.Ditambah lagi pemborosan uang yang terlihat pada pembangunan makam-makam Batak Toba yang nilainya mencapai ratusan juta.
Penyelewengan-penyelewengan pada kebudayaan Batak Toba membuat hati Ompu Monang tergugah untuk mengadakan seminar-seminar. Namun hasilnya terbatas pada cetakan hasil seminar saja. Hal inilah yang membuat Ompu Monang mengorbankan dirinya dengan menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya secara efisien namun tidak keluar drai jalur adapt.Akhirnya pun Ompu Monang menambahkan , sebagai Parbato tidak hanya berbicara tapi melaksanakan apa yang dikatakan Parbato. Perbuatan nyata adalah nasehat yang baik.
Bacaan 2 :
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH
DAN MODANG DEWASA INI
Inventaris Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh : Franky Raden
Pada awal bulan Maret tahun lalu, penulus berangkat ke daerah pedalaman di Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan Kota Tenggarong, Kalimantan Timur dimana Suku Kenyah dan Modang berada untuk mempelajari kesenian. Akan tetapi kesenian daloam masyarakat mereka ternyata tidak bisa dilepaskan dari kontes gerak kehidupan sehari-hari.
Pemiskinan yang dihadapi oleh kedua suku Dayak ini, mereka hadapi dengan diawali menurunya penghasilan dari berlaang akibat perahu pedagang dan tengkulak yang menaikan harga barang. Faktor lain yang berperan yaitu berdirinya warung-warung yang dimiliki oleh suku pendatang dari Kutai, Bugis, Toraja yang membeli hasil pertanian mereka dengan sangat rendah. Kedua, masuknya budaya baru menyebabkan musnahnya inti sukama yang membangun seluruh struktur dan mekanisme kebudayaan dari mereka yaitu Lamin.dan kesenian tersebut menjadi terpisah dengan kebuadayaan mereka.Ketiga, pendidikan informal yang sudah diterapkan kepada anak-anak, kini sudah nyaris hilang akibat kebudayaan dari Kota.
Terciptanya kondisi-kondisi tersebut dalam kehidupan Suku Dayak tidak terlepas dari Tanggungjawab dari Pemerintah daerah yang menerima bahkan menganjurkan mereka hidup diwilayahnya.Selain itu proses Pemiskinan yang terjadi bukan hanya dalam konteks pemiskinan suatu kualitas dan ruang gerak kehidupan. Saat ini terjadi di Suku Dayak tidak lain dari sebuah proses pemusnahan eksistensi sekelompok manusia dalam dimensi cultural. Ini yang bisa menyeret mereka dalam bencana Tragis
Yang harus kita lakukan untuk menghadapi masalah ini adalah bagaimana kita mengerti an memahami Ketahanan Nasional sebagai Inner Security manusia-manusia Indonesia dalam ruang gerak kultur mereka. Bukan hanya ketahanan lapisan luar suatu strategi ekonomi, politik atau pemerintah. Jadi kita nhrus mempertahankan budaya asal kita supaya tidak terseret arus Globalisasi yang berdampak negative.
Analisis Bacaan
Bacaan 1 :
Unsur-unsur Kebudayaan
1. Sistim Teknolgi
i. Munculnya sistim pembuatan ulos secara mesin
ii. Pengaruh Munculnya Barang-barang baru yang modern
iii. Pembangunan Makam modern yang mahal
2. Sistim Ekonomi
i. Sistim Pertanian batak yang boros
ii. Penghambur-hamburan uang dan waktu untuk acara yang tidak begitu penting
3. Organisasi Sosial
i. Kekerabatan Batak Toba, dengan sub etnis, Angkola, Mandailing dll.
ii. Kelompok Parbato
4. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
5. Kesenian
i. Upacara Perkawinan
6. Sistim Religi
i. Tidak ada
7. Bahasa
i. Bahasa batak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pendapat Ompu Monang
2. Wujud Aktifitas :Pemikiran dan pengaplikasian pendapat Ompu monang
3. Wujud Fisik :Keputusan Ompu Monang,untuk melaksanakan upacara perkawinan yang sederhana.
c. Integrasi dan Diversitas : 1.-, 2. Upacara perkawinan anak Ompu Bacaan 2 :
Unsur-unsur Kebudayaan
8. Sistim Teknolgi
i. Kecendrungan dayak untuk bersifat moden
ii. Pola Konsumtif
iii. Manifestasi material kebudayaan modern
9. Sistim Ekonomi
i. Kemiskinan suku dayak,pertanian sbg unsur pokok ekonom
ii. Pemanifulasian arus ekonomi oleh suku pendatang
10. Organisasi Sosial
i. Suku Dayak Kenyah dan Suku Modang
11. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
12. Kesenian
i. Terpisah oleh kehidupan, lamin dan intfiltrasi kesenian.
13. Sistim Religi
i. Pengaruh dari agama-agama Pendatang
14. Bahasa
i. Bahasa dayak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pandangan Kedepan suku Dayak
2. Wujud Aktifitas :Prilaku konsumtif Suku dayak
3. Wujud Fisik :Sistim perekonomian Masyarakat suku Dayak.
c. Integrasi dan Diversitas :
1. Integrasi : Sistim Perekonomian Yang salah,
2. a.Agama Orang dayak
b.Prilaku Pola Konsumtif Suku Dayak untuk meniru Prilaku masyarakat kota.
SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh: Arbein Rambey
Dalam seminggu terakhir ini, Pemasangan iklan oleh Parbato atau pertungkoan batak Toba, sebuah organisasi kesukuan berisi ajakan masyarakat Toba diamana pun berada untuk mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pargosit. Adanya iklan di surat kabar Medan, munculnya pertanyaan tidaklah gerakan kesukuan merupakan langkah mundur di tengah arus Globalisasi yang sedemikian deras?. Hal ini ditentang oleh Ompu Monang yang memiliki nama asli Daniel Napitulu.Beliau berpendapat masalah di Indonesia hanya dapat didekati secara etnis dan pentingnya tiap etnis mempunyai kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk solidarias Indonesia secara keseluruhan.
Orang Batak Toba, merupakan orang yang memiliki watak keras, ceplas-ceplos,senang sekali bernyanyi dan berwajah khas dengan dagu persegi.Dalam kekerabatan Batak Toba memiliki sisi positif dan sisi negative. Di sisi Positifnya, terlihat dalam rasa tanggung jawab pada pendidikan anaknya sehinnga jarang sekali anak batak Toba terlantar oleh orang tuanya. Namun dibalik itu, sisi negativenya adalah menurut Ompu Monang yaitu dalam penghambuaran uang dan waktu. Misalnya pada upacara pernikahan. Acara keluarga dalam pesta perkawinan berlnagsung hingga lebih dari lima jam. Selain itu, adanya acara pengulosan. Masih pada acra perkawinan, begitu banyak kerabat yang memberi nasehat kepada kedua mempelai, hingga waktunya berjam-jam. Padahal menurut pandangan Ompu Monang, nasehat itu sama sekali tidak begitu berarti.Ditambah lagi pemborosan uang yang terlihat pada pembangunan makam-makam Batak Toba yang nilainya mencapai ratusan juta.
Penyelewengan-penyelewengan pada kebudayaan Batak Toba membuat hati Ompu Monang tergugah untuk mengadakan seminar-seminar. Namun hasilnya terbatas pada cetakan hasil seminar saja. Hal inilah yang membuat Ompu Monang mengorbankan dirinya dengan menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya secara efisien namun tidak keluar drai jalur adapt.Akhirnya pun Ompu Monang menambahkan , sebagai Parbato tidak hanya berbicara tapi melaksanakan apa yang dikatakan Parbato. Perbuatan nyata adalah nasehat yang baik.
Bacaan 2 :
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH
DAN MODANG DEWASA INI
Inventaris Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh : Franky Raden
Pada awal bulan Maret tahun lalu, penulus berangkat ke daerah pedalaman di Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan Kota Tenggarong, Kalimantan Timur dimana Suku Kenyah dan Modang berada untuk mempelajari kesenian. Akan tetapi kesenian daloam masyarakat mereka ternyata tidak bisa dilepaskan dari kontes gerak kehidupan sehari-hari.
Pemiskinan yang dihadapi oleh kedua suku Dayak ini, mereka hadapi dengan diawali menurunya penghasilan dari berlaang akibat perahu pedagang dan tengkulak yang menaikan harga barang. Faktor lain yang berperan yaitu berdirinya warung-warung yang dimiliki oleh suku pendatang dari Kutai, Bugis, Toraja yang membeli hasil pertanian mereka dengan sangat rendah. Kedua, masuknya budaya baru menyebabkan musnahnya inti sukama yang membangun seluruh struktur dan mekanisme kebudayaan dari mereka yaitu Lamin.dan kesenian tersebut menjadi terpisah dengan kebuadayaan mereka.Ketiga, pendidikan informal yang sudah diterapkan kepada anak-anak, kini sudah nyaris hilang akibat kebudayaan dari Kota.
Terciptanya kondisi-kondisi tersebut dalam kehidupan Suku Dayak tidak terlepas dari Tanggungjawab dari Pemerintah daerah yang menerima bahkan menganjurkan mereka hidup diwilayahnya.Selain itu proses Pemiskinan yang terjadi bukan hanya dalam konteks pemiskinan suatu kualitas dan ruang gerak kehidupan. Saat ini terjadi di Suku Dayak tidak lain dari sebuah proses pemusnahan eksistensi sekelompok manusia dalam dimensi cultural. Ini yang bisa menyeret mereka dalam bencana Tragis
Yang harus kita lakukan untuk menghadapi masalah ini adalah bagaimana kita mengerti an memahami Ketahanan Nasional sebagai Inner Security manusia-manusia Indonesia dalam ruang gerak kultur mereka. Bukan hanya ketahanan lapisan luar suatu strategi ekonomi, politik atau pemerintah. Jadi kita nhrus mempertahankan budaya asal kita supaya tidak terseret arus Globalisasi yang berdampak negative.
Analisis Bacaan
Bacaan 1 :
Unsur-unsur Kebudayaan
1. Sistim Teknolgi
i. Munculnya sistim pembuatan ulos secara mesin
ii. Pengaruh Munculnya Barang-barang baru yang modern
iii. Pembangunan Makam modern yang mahal
2. Sistim Ekonomi
i. Sistim Pertanian batak yang boros
ii. Penghambur-hamburan uang dan waktu untuk acara yang tidak begitu penting
3. Organisasi Sosial
i. Kekerabatan Batak Toba, dengan sub etnis, Angkola, Mandailing dll.
ii. Kelompok Parbato
4. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
5. Kesenian
i. Upacara Perkawinan
6. Sistim Religi
i. Tidak ada
7. Bahasa
i. Bahasa batak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pendapat Ompu Monang
2. Wujud Aktifitas :Pemikiran dan pengaplikasian pendapat Ompu monang
3. Wujud Fisik :Keputusan Ompu Monang,untuk melaksanakan upacara perkawinan yang sederhana.
c. Integrasi dan Diversitas : 1.-, 2. Upacara perkawinan anak Ompu Bacaan 2 :
Unsur-unsur Kebudayaan
8. Sistim Teknolgi
i. Kecendrungan dayak untuk bersifat moden
ii. Pola Konsumtif
iii. Manifestasi material kebudayaan modern
9. Sistim Ekonomi
i. Kemiskinan suku dayak,pertanian sbg unsur pokok ekonom
ii. Pemanifulasian arus ekonomi oleh suku pendatang
10. Organisasi Sosial
i. Suku Dayak Kenyah dan Suku Modang
11. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
12. Kesenian
i. Terpisah oleh kehidupan, lamin dan intfiltrasi kesenian.
13. Sistim Religi
i. Pengaruh dari agama-agama Pendatang
14. Bahasa
i. Bahasa dayak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pandangan Kedepan suku Dayak
2. Wujud Aktifitas :Prilaku konsumtif Suku dayak
3. Wujud Fisik :Sistim perekonomian Masyarakat suku Dayak.
c. Integrasi dan Diversitas :
1. Integrasi : Sistim Perekonomian Yang salah,
2. a.Agama Orang dayak
b.Prilaku Pola Konsumtif Suku Dayak untuk meniru Prilaku masyarakat kota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar