Sabtu, 28 Juni 2014

P04 sikat miring



Persahabatan itu bagaikan air mengalir dimana sahabat-sahabat saling mengerti apa permasalahan yang sedang dihadapi oleh salah satu dari mereka. Dalam persahabatan tidaklah luput dari perbedaan pendapat, bahkan sering terjadi kesalahpahaman dalam menilai satu sama lain. Tetapi apapun yang jadi penilaian dalam persahabatan itu hanya sebuah warna warni dalam dunia persahabatan. Keseharian yang biasanya bercanda bersama, itu mungkin terasa hilang ketika harus ada  perpisahan, perpisahan yang mungkin kita tidak tahu apa tujuan dari perpisahan itu. Namun kelak suatu hari persahabatan sejati itu akan bersatu lagi bagaikan bulan dan bintang yang tidak memandang siapa yang indah, namun tetap setia menerangi malam yang begitu sunyi.
Kerinduan akan sahabat-sahabat itu bagaikan kekeringan dipadang pasir yang begitu haus akan air. Sebuah persahabatan tidak akan pernah terhapuskan oleh cengkraman-cengkraman perbedaan. Seperti apapun orang yang telah menjadi sahabat mu,  itulah dia baik itu orang yang serba berkecukupan, bahkan orang yang tidak berkecukupan. Waktu terkadang menjadi penghalang bagi para sahabat  untuk saling bertemu. Tapi perasaan tidak akan pernah terhalang oleh apapun. Ketika kita merindukan sahabat yang mungkin jauh dari jangkauan kita mungkin kita akan menyampaikan kerinduan kita lewat air mata yang tak seorangpun tahu. Air mata itulah yang akan menjadi saksi kerinduan terhadap para sahabat yang mungkin sedang berjuang dalam menempuh jalan hidupnya masing-masing.
Persahabatan itu bagaikan gelombang air laut. Terkadang ada saatnya naik dan terkadang ada saatnya turun. Begitu juga dengan persahabatan, terkadang berkumpul bahkan terkadang bercanda bersama-sama. Dan ada saatnya persahabatan itu harus terpisah oleh kesibukan dan tujuan hidup masing-masing. Bahkan pada suatu hari nanti diantara sahabat-sahabat itu mungkin tidak lagi tahu keberadaan beberapa orang sahabatnya. Disaat itulah hati mulai binggung apa yang harus dilakukan agar dapat bertemu dengan sahabat lama itu. Pada saat itulah akan muncul rasa penyesalan tentang sikap-sikap dan tingkah laku yang buruk terhadap sahabat-sahabat dimasa-masa yang telah dilalui bersama.
Persahabatan itu ibaratkan kita berada di sebuah gunung, ketika kita disana kita tidak merasakan bahwa gunung itu indah, hijau dan cerah. Tetapi ketika kita berada di sebuah gunung yang lain dan memandang gunung itu barulah kita sadar dan melihat bahwa gunung itu begitu indah, begitu menawan bahkan begitu hijau. Kebanyakan dari kita tidak mengerti apa itu persahabatan sejati, tetapi pada suatu saat kita akan mengerti apa itu sahabat sejati, ketika kita tidak lagi bercanda, bermain bersama mereka, tidak lagi berada disamping mereka, bahkan disaat kita sedih dan tak ada seorang pun yang menghibur dan memotivasi kita disaat itulah kita sadar bahwa persahabatan sejati itu adalah mereka yang dahulunya adalah orang yang selalu menghibur, dan memotivasi kita ketika kita dalam keadaan sedih.
Kelak dimasa tua persahabatan akan diakhiri oleh usia, usia  yang tidak memandang siapa dia seberapa kaya dia, bahkan seberapa terkenalnya dia. Kelak kita hanya bisa membalas budi para sahabat kita bukan lagi dengan memotivasinya atau menghiburnya, melainkan hanya dengan Doa.  Tidak ada lagi canda dan tawa dari wajah-wajah yang dahulunya selalu ceria. Pada saat itulah kesadaran akan sahabat sejati akan sangat terasa. Pada saat itulah akan tersadar bahwa semua yang telah terjadi tidak mungkin bisa diulang kembali.

Statifikasi Sosial



Statifikasi Sosial
Institut Pertanian Bogor
Sistem Status Dan Pelapisan Masyarakat Sistem Status Yang Berubah
Runtuhnya Sistem Status Kolonial dalam Abad Kedua Puluh
Oleh: W. F Wetrthein
Dan
Situasi Sosial Dua Komunitas Desa di Sulawesi Selatan
Oleh: Mochtar Buchori dan Wiladi
Analisis bacaan 1
Stratifikasi sosial adalah ketidaksamaan (inequality) masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hirarkis) yang wujudnya adalah kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah. Dalam bacaan terdapat pembagian masyarakat berdasarkan kedudukan dan peranannya masing-masing.
Dalam bacaan dapat dianalisis dimensi utama stratifikasi sosial :
• Kekayaan : pendapatan orang Eropa lebih tinggi di banding orang Cina dan Pribumi mengakibatkan orang Eropa berada pada lapisan paling atas, di susul orang Cina dan terakhir Pribumi.
• Kekuasaan : pada saat penjajahan, orang Belanda mempunyai kekuasaan untuk memonopoli perdagangan di lanjutkan oleh orang Cina, Arab dan Indo.
• Kehormatan : anak-anak para pemuka adat mendapat kesempatan secara besar-besaran memperoleh fasilitas pendidikan,
• Pengetahuan : orang-orang yang mendapatkan pendidikan dengan cara barat berkumpul dan mendapat pekerjaan di Jawa, orang yang memiliki keahlian baca tulis dapat menerima pendapatan yang relatif tinggi, orang pribumi yang mahir bahasa Belanda dijadikan tenaga administrasi pemerintah belanda.
Mobilitas sosial yang terjadi :
• Horizontal : adanya perubahan status orang pribumi dari petani menjadi pedagang.
• Vertikal (naik) : para cendekiawan dan aristokrat membentuk suatu kelas 'priyayi baru yang akan menjadi lapisan tertinggi dalam masyarakat, orang yang memliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dalam masyarakat sehingga status sosialnya naik.
Dalam bacaan diatas kedudukan stratifikasinya adalah:
Suatu perjuangan untuk mencapai pengakuan resmi prestise yang lebih tinggi dalam kemasyarakatan melalui perantara ijazah (achieved status)
Adanya suatu kelas cendekiawan Indonesia mendobrak susunan kemasyarakatan jawa tradisional dan pelapisan sosial kolonial abad XIX melalui perbedaan ras (achieved status)
Anak-anak para pemuka adat, Kristen Ambon dan Manado diutamakan mendapat kesempatan besar dalam fasilitas pendidikan (ascribed status)
Sistem pelapisan yang terjadi adalah "sistem pelapisan terbuka" karena terjadi mobilitas sosial yang diperoleh atas usaha sendiri melalui beragam cara. Adapun usaha yang dilakukan untuk merubah status atau kedudukan adalah pendidikan sebagai usaha untuk merubah stasus atau kedudukan adalah meraih pendidikan dengan kata lain meraih pendiidkan sebagai usaha untuk merubah status atau kedudukan .
Analisis bacaan 2
Dalam bacaan dapat dianalisis dimensi utama stratifikasi sosial :
• Kekayaan
o Desa Maricaya Selatan : Dari segi ekonomi terdapat tiga lapisan misalnya lapisan ekonomi mampu (terdiri dari para pejabat penting pemerintah setempat, para dokter, para insinyur dan kelompok-kelompok professional lainnya) ,menengah( terdiri dari alim ulama, pegawai dan wirausaha) dan miskin (terdiri dari para buruh tani, buruh bangunan, buruh pabrik dan buruh-buruh lainnya.
o Desa polewali : Dari segi ekonomi di bagi dalam golongan kaya(terdiri dari pemangku, ulam dan pejabat), golongan menengah( terdiri dari para pegawai dan pedagang) dan golongan miskin ( terdiri dari para buruh).
• Kekuasaanawai dan
o Desa Maricaya Selatan : Masyarakat yang memilki kekayaan cenderung mempunyai kekuasaan yang lebih besar akibatnya masyarat golongan atas mempunyai kekuasaan yang lebih besar.
o Desa Polewali : Kekuasaan ekonomi pada orang Bugis, kekuasaan politik pada orang Makasar, kepemimpinan dalam kehidupan bersama di pegang oleh bersama.
• Kehormatan
o Desa Maricaya Selatan : Orang yang mendapat pendidikan dan gelar akan lebih di hormati.
o Desa Polewali : Orang yang mempunyai barang-barang mewah yang di gunakan sebagai aspek simbolik akan lebih di hargai.
• Pengetahuan
o Desa Maricaya Selatan : pendidikan sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan mereka, dan yang mampu menyelesaikan pendidikan sampai akhir hanya golongan atas.
o Desa Polewali : pendidikan dianggap sebagai sarana untuk mendapatkan tempat terhormat dalam kehidupan.
Mobilitas sosial yang terjadi :
• Vertikal
o Naik : golongan menengah yang memperoleh pendidikan dan gelar mungkin berubah statunya menjadi golongan atas.
o Turun : masyarakat golongan atas yang berfoya –foya mungkin akan jatuh miskin dan menempati posisi bawah.
Sistem pelapisan yang terjadi adalah "sistem pelapisan terbuka" karena terjadi mobilitas sosial yang diperoleh atas usaha sendiri melalui beragam cara.

OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK Oleh: Arbein Rambey



OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN
SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh: Arbein Rambey

Dalam seminggu terakhir ini, Pemasangan iklan oleh Parbato atau pertungkoan batak Toba, sebuah organisasi kesukuan berisi ajakan masyarakat Toba diamana pun berada untuk mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pargosit. Adanya iklan di surat kabar Medan, munculnya pertanyaan tidaklah gerakan kesukuan merupakan langkah mundur di tengah arus Globalisasi yang sedemikian deras?. Hal ini ditentang oleh Ompu Monang yang memiliki nama asli Daniel Napitulu.Beliau berpendapat masalah di Indonesia hanya dapat didekati secara etnis dan pentingnya tiap etnis mempunyai kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk solidarias Indonesia secara keseluruhan.
Orang Batak Toba, merupakan orang yang memiliki watak keras, ceplas-ceplos,senang sekali bernyanyi dan berwajah khas dengan dagu persegi.Dalam kekerabatan Batak Toba memiliki sisi positif dan sisi negative. Di sisi Positifnya, terlihat dalam rasa tanggung jawab pada pendidikan anaknya sehinnga jarang sekali anak batak Toba terlantar oleh orang tuanya. Namun dibalik itu, sisi negativenya adalah menurut Ompu Monang yaitu dalam penghambuaran uang dan waktu. Misalnya pada upacara pernikahan. Acara keluarga dalam pesta perkawinan berlnagsung hingga lebih dari lima jam. Selain itu, adanya acara pengulosan. Masih pada acra perkawinan, begitu banyak kerabat yang memberi nasehat kepada kedua mempelai, hingga waktunya berjam-jam. Padahal menurut pandangan Ompu Monang, nasehat itu sama sekali tidak begitu berarti.Ditambah lagi pemborosan uang yang terlihat pada pembangunan makam-makam Batak Toba yang nilainya mencapai ratusan juta.
Penyelewengan-penyelewengan pada kebudayaan Batak Toba membuat hati Ompu Monang tergugah untuk mengadakan seminar-seminar. Namun hasilnya terbatas pada cetakan hasil seminar saja. Hal inilah yang membuat Ompu Monang mengorbankan dirinya dengan menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya secara efisien namun tidak keluar drai jalur adapt.Akhirnya pun Ompu Monang menambahkan , sebagai Parbato tidak hanya berbicara tapi melaksanakan apa yang dikatakan Parbato. Perbuatan nyata adalah nasehat yang baik.

Bacaan 2 :
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH
DAN MODANG DEWASA INI
Inventaris Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh : Franky Raden
Pada awal bulan Maret tahun lalu, penulus berangkat ke daerah pedalaman di Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan Kota Tenggarong, Kalimantan Timur dimana Suku Kenyah dan Modang berada untuk mempelajari kesenian. Akan tetapi kesenian daloam masyarakat mereka ternyata tidak bisa dilepaskan dari kontes gerak kehidupan sehari-hari.
Pemiskinan yang dihadapi oleh kedua suku Dayak ini, mereka hadapi dengan diawali menurunya penghasilan dari berlaang akibat perahu pedagang dan tengkulak yang menaikan harga barang. Faktor lain yang berperan yaitu berdirinya warung-warung yang dimiliki oleh suku pendatang dari Kutai, Bugis, Toraja yang membeli hasil pertanian mereka dengan sangat rendah. Kedua, masuknya budaya baru menyebabkan musnahnya inti sukama yang membangun seluruh struktur dan mekanisme kebudayaan dari mereka yaitu Lamin.dan kesenian tersebut menjadi terpisah dengan kebuadayaan mereka.Ketiga, pendidikan informal yang sudah diterapkan kepada anak-anak, kini sudah nyaris hilang akibat kebudayaan dari Kota.
Terciptanya kondisi-kondisi tersebut dalam kehidupan Suku Dayak tidak terlepas dari Tanggungjawab dari Pemerintah daerah yang menerima bahkan menganjurkan mereka hidup diwilayahnya.Selain itu proses Pemiskinan yang terjadi bukan hanya dalam konteks pemiskinan suatu kualitas dan ruang gerak kehidupan. Saat ini terjadi di Suku Dayak tidak lain dari sebuah proses pemusnahan eksistensi sekelompok manusia dalam dimensi cultural. Ini yang bisa menyeret mereka dalam bencana Tragis
Yang harus kita lakukan untuk menghadapi masalah ini adalah bagaimana kita mengerti an memahami Ketahanan Nasional sebagai Inner Security manusia-manusia Indonesia dalam ruang gerak kultur mereka. Bukan hanya ketahanan lapisan luar suatu strategi ekonomi, politik atau pemerintah. Jadi kita nhrus mempertahankan budaya asal kita supaya tidak terseret arus Globalisasi yang berdampak negative.

Analisis Bacaan

Bacaan 1 :
Unsur-unsur Kebudayaan
1. Sistim Teknolgi
i. Munculnya sistim pembuatan ulos secara mesin
ii. Pengaruh Munculnya Barang-barang baru yang modern
iii. Pembangunan Makam modern yang mahal
2. Sistim Ekonomi
i. Sistim Pertanian batak yang boros
ii. Penghambur-hamburan uang dan waktu untuk acara yang tidak begitu penting
3. Organisasi Sosial
i. Kekerabatan Batak Toba, dengan sub etnis, Angkola, Mandailing dll.
ii. Kelompok Parbato
4. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
5. Kesenian
i. Upacara Perkawinan
6. Sistim Religi
i. Tidak ada
7. Bahasa
i. Bahasa batak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pendapat Ompu Monang
2. Wujud Aktifitas :Pemikiran dan pengaplikasian pendapat Ompu monang
3. Wujud Fisik :Keputusan Ompu Monang,untuk melaksanakan upacara perkawinan yang sederhana.
c. Integrasi dan Diversitas : 1.-, 2. Upacara perkawinan anak Ompu Bacaan 2 :
Unsur-unsur Kebudayaan
8. Sistim Teknolgi
i. Kecendrungan dayak untuk bersifat moden
ii. Pola Konsumtif
iii. Manifestasi material kebudayaan modern
9. Sistim Ekonomi
i. Kemiskinan suku dayak,pertanian sbg unsur pokok ekonom
ii. Pemanifulasian arus ekonomi oleh suku pendatang
10. Organisasi Sosial
i. Suku Dayak Kenyah dan Suku Modang
11. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
12. Kesenian
i. Terpisah oleh kehidupan, lamin dan intfiltrasi kesenian.
13. Sistim Religi
i. Pengaruh dari agama-agama Pendatang
14. Bahasa
i. Bahasa dayak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pandangan Kedepan suku Dayak
2. Wujud Aktifitas :Prilaku konsumtif Suku dayak
3. Wujud Fisik :Sistim perekonomian Masyarakat suku Dayak.
c. Integrasi dan Diversitas :
1. Integrasi : Sistim Perekonomian Yang salah,
2. a.Agama Orang dayak
b.Prilaku Pola Konsumtif Suku Dayak untuk meniru Prilaku masyarakat kota.












OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN
SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh: Arbein Rambey

Dalam seminggu terakhir ini, Pemasangan iklan oleh Parbato atau pertungkoan batak Toba, sebuah organisasi kesukuan berisi ajakan masyarakat Toba diamana pun berada untuk mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pargosit. Adanya iklan di surat kabar Medan, munculnya pertanyaan tidaklah gerakan kesukuan merupakan langkah mundur di tengah arus Globalisasi yang sedemikian deras?. Hal ini ditentang oleh Ompu Monang yang memiliki nama asli Daniel Napitulu.Beliau berpendapat masalah di Indonesia hanya dapat didekati secara etnis dan pentingnya tiap etnis mempunyai kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk solidarias Indonesia secara keseluruhan.
Orang Batak Toba, merupakan orang yang memiliki watak keras, ceplas-ceplos,senang sekali bernyanyi dan berwajah khas dengan dagu persegi.Dalam kekerabatan Batak Toba memiliki sisi positif dan sisi negative. Di sisi Positifnya, terlihat dalam rasa tanggung jawab pada pendidikan anaknya sehinnga jarang sekali anak batak Toba terlantar oleh orang tuanya. Namun dibalik itu, sisi negativenya adalah menurut Ompu Monang yaitu dalam penghambuaran uang dan waktu. Misalnya pada upacara pernikahan. Acara keluarga dalam pesta perkawinan berlnagsung hingga lebih dari lima jam. Selain itu, adanya acara pengulosan. Masih pada acra perkawinan, begitu banyak kerabat yang memberi nasehat kepada kedua mempelai, hingga waktunya berjam-jam. Padahal menurut pandangan Ompu Monang, nasehat itu sama sekali tidak begitu berarti.Ditambah lagi pemborosan uang yang terlihat pada pembangunan makam-makam Batak Toba yang nilainya mencapai ratusan juta.
Penyelewengan-penyelewengan pada kebudayaan Batak Toba membuat hati Ompu Monang tergugah untuk mengadakan seminar-seminar. Namun hasilnya terbatas pada cetakan hasil seminar saja. Hal inilah yang membuat Ompu Monang mengorbankan dirinya dengan menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya secara efisien namun tidak keluar drai jalur adapt.Akhirnya pun Ompu Monang menambahkan , sebagai Parbato tidak hanya berbicara tapi melaksanakan apa yang dikatakan Parbato. Perbuatan nyata adalah nasehat yang baik.

Bacaan 2 :
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH
DAN MODANG DEWASA INI
Inventaris Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh : Franky Raden
Pada awal bulan Maret tahun lalu, penulus berangkat ke daerah pedalaman di Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan Kota Tenggarong, Kalimantan Timur dimana Suku Kenyah dan Modang berada untuk mempelajari kesenian. Akan tetapi kesenian daloam masyarakat mereka ternyata tidak bisa dilepaskan dari kontes gerak kehidupan sehari-hari.
Pemiskinan yang dihadapi oleh kedua suku Dayak ini, mereka hadapi dengan diawali menurunya penghasilan dari berlaang akibat perahu pedagang dan tengkulak yang menaikan harga barang. Faktor lain yang berperan yaitu berdirinya warung-warung yang dimiliki oleh suku pendatang dari Kutai, Bugis, Toraja yang membeli hasil pertanian mereka dengan sangat rendah. Kedua, masuknya budaya baru menyebabkan musnahnya inti sukama yang membangun seluruh struktur dan mekanisme kebudayaan dari mereka yaitu Lamin.dan kesenian tersebut menjadi terpisah dengan kebuadayaan mereka.Ketiga, pendidikan informal yang sudah diterapkan kepada anak-anak, kini sudah nyaris hilang akibat kebudayaan dari Kota.
Terciptanya kondisi-kondisi tersebut dalam kehidupan Suku Dayak tidak terlepas dari Tanggungjawab dari Pemerintah daerah yang menerima bahkan menganjurkan mereka hidup diwilayahnya.Selain itu proses Pemiskinan yang terjadi bukan hanya dalam konteks pemiskinan suatu kualitas dan ruang gerak kehidupan. Saat ini terjadi di Suku Dayak tidak lain dari sebuah proses pemusnahan eksistensi sekelompok manusia dalam dimensi cultural. Ini yang bisa menyeret mereka dalam bencana Tragis
Yang harus kita lakukan untuk menghadapi masalah ini adalah bagaimana kita mengerti an memahami Ketahanan Nasional sebagai Inner Security manusia-manusia Indonesia dalam ruang gerak kultur mereka. Bukan hanya ketahanan lapisan luar suatu strategi ekonomi, politik atau pemerintah. Jadi kita nhrus mempertahankan budaya asal kita supaya tidak terseret arus Globalisasi yang berdampak negative.

Analisis Bacaan

Bacaan 1 :
Unsur-unsur Kebudayaan
1. Sistim Teknolgi
i. Munculnya sistim pembuatan ulos secara mesin
ii. Pengaruh Munculnya Barang-barang baru yang modern
iii. Pembangunan Makam modern yang mahal
2. Sistim Ekonomi
i. Sistim Pertanian batak yang boros
ii. Penghambur-hamburan uang dan waktu untuk acara yang tidak begitu penting
3. Organisasi Sosial
i. Kekerabatan Batak Toba, dengan sub etnis, Angkola, Mandailing dll.
ii. Kelompok Parbato
4. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
5. Kesenian
i. Upacara Perkawinan
6. Sistim Religi
i. Tidak ada
7. Bahasa
i. Bahasa batak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pendapat Ompu Monang
2. Wujud Aktifitas :Pemikiran dan pengaplikasian pendapat Ompu monang
3. Wujud Fisik :Keputusan Ompu Monang,untuk melaksanakan upacara perkawinan yang sederhana.
c. Integrasi dan Diversitas : 1.-, 2. Upacara perkawinan anak Ompu Bacaan 2 :
Unsur-unsur Kebudayaan
8. Sistim Teknolgi
i. Kecendrungan dayak untuk bersifat moden
ii. Pola Konsumtif
iii. Manifestasi material kebudayaan modern
9. Sistim Ekonomi
i. Kemiskinan suku dayak,pertanian sbg unsur pokok ekonom
ii. Pemanifulasian arus ekonomi oleh suku pendatang
10. Organisasi Sosial
i. Suku Dayak Kenyah dan Suku Modang
11. Sistim Pengetahuan
i. Munculnya keinginan untuk merubah budaya yang bersifat negative
ii. Keinginan Batak Toba untuk membari pendidikan terbaik kepada anak-anaknya
12. Kesenian
i. Terpisah oleh kehidupan, lamin dan intfiltrasi kesenian.
13. Sistim Religi
i. Pengaruh dari agama-agama Pendatang
14. Bahasa
i. Bahasa dayak, yang masing-masing sub etnis berbeda
Wujud Kebudayaan
1. Wujud idil :Pandangan Kedepan suku Dayak
2. Wujud Aktifitas :Prilaku konsumtif Suku dayak
3. Wujud Fisik :Sistim perekonomian Masyarakat suku Dayak.
c. Integrasi dan Diversitas :
1. Integrasi : Sistim Perekonomian Yang salah,
2. a.Agama Orang dayak
b.Prilaku Pola Konsumtif Suku Dayak untuk meniru Prilaku masyarakat kota.

LSM dan Negara



LSM DAN NEGARA
Oleh: Philip Eldrige
Penawaran sejumlah justifikasi primai facie guna menunjukan bahwa LSM memang memiliki signifikasi politik hampir semua LSM, mengadopsi profil yang menekankan karakter non politiik. Langkah politik yang bijaksana dalam konteks Indonesia mereflesikan nilai – nilai yang sangat berakar yakni konsep tentang masyarakat dan negara. LSM telah menjadi saluran absah bagi partisipasi sosial dan politik Meskipun terjalin kerjasama, pemerintah tetap berusaha mencegah bangkitnya keterlibatan masyarakat yang didasarkan pada kelompok – kelompok yang secara murni mengandalkan kekuatan sendiri. Satu cara yang ditempuh pemerintah untuk menetralisir kekuatan LSM adalah dengan menciptakan struktur pararel yang bertujuan memobolisasi kelompok – kelompok sasaran seperti pemuda, petani, dan wanita.
Tingginya tingkat informalitas yang diadopsi LSM dalam bentuk struktur organisasi yang dipercaya sebagai persyaratan untuk kelangsunagn hidup, dapat pula menyulitkan berkembangnya struktur demokratis yang memiliki landasan hokum kukuh, ditingkat lebih rendah. Ada anggapan kuat di Indonesia bahwa UU organisasi kemasyarakatan yang dikeluarkan 1985 akan sangat memukul otonomi LSM/LPSM. Pengaturan yang dikenakan terhadap LSM sebelum 1985 ditunjukan terhadap penyaluran dana asing, dengan LSM – LSM lokal sebagai pihak yang paling berpengaruh karena ketergantungan mereka pada bantuan asing tersebut. Situasi ini umumnya tidak berubah setelah dikeluarkan UU keormasan.
Terdapat tiga jenis umum pendekatan yang dilakukan berbagai LSM/LPSM dalam hal penjalinan hubungan dengan pemerintah Indonesia. Pendekatan pertama, berlabel kerjasama tingkat tinggi : Pembangunan Akarrumput’, menekankan kerjasama dalam program – program pembanguan pemerintah dengan munyusupkan pengaruh terhadap rancangan maupun implementasi program – program tersebut. Pendekatan kedua disebut sebagai ‘Politik Tingkat Tinggi’ : Mobilisasi Akarrumput’, berbeda dengan pendekatan pertama ayang social network , pendekatan kedua merupakan pengembangan gagasan berdasarkan kerangka berpikir teori social radikal, yang digabung dengan kritik lebih luas terhadap falsafah dan praktek Orde Baru. Fokus kegiatan kelompok ketiga lebih berada di tingkat lokal daripada nasional. Konsep mobilisasi mereka lebih menekankan ‘peningkatan kesadaran’ (consciousness raising) dan kesadaran akan hak, daripada upaya mengubah kebijaksanaan, sambil mengupayakan formasi kelompok otonomi tanpa pretense politis tertentu.
Model 1 didasarkan pada pengalaman YIS yang bergerak di bidang kesehatan Masyarakat serta Bina Swadaya yang bergerak dibidang simpan pinjam dan koperasi informal. Model 2 diwakili oleh Lembaga Studi Pembangunan (LSP) yang bergerak didalam bidang pengembangan pelajar dan mahasiswa. Serta WALHI dan Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang beroperasi dibidang Hukum.Model 3 diwakili dengan Lembaga Konsultasi dan Keluarga (LKBHWK) dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang sebagian besar dikelola oleh wanita. Ketiga model tersebut pada adsarnya membawa sejumlah orientasi kearah ‘penguatan’ (empowerment) kelompok – kelompok kecil dalam arti mendorong kapasitas self – management dan melatih kader – kader dari kelompok sasasran yang dibutuhkan untuk menjalani keahlian yang diisyaratkan.
Sementara gerakan LSM telah banyak menyumbang bagi penguatan proses demokratisasi di Indonesia, perluasan basis masyarakat mereka tergantung pada pencapaian ; (1) sintesa efektif antara corak gerakan ‘pembangunan’ dan ‘mobilisasi’; (2) interaksi antara aktivitas di tingkat mikro dan makro; (3) rekonsilasi dari perbedaan – perbedaan terutama antara model LSM kedua dan ketiga; (4) debirokratisasi yang lebih luas dari hubungan LSM/LPSM serta memadukan gerakan kooperatif dengan otonomi kelompok kecil. Pemahaaman LSM terhadap peran Negara vis – a – vis masyarakat sipil akan sangat menentukan cara mereka mengatasi rangkaian masalah tersebut.

Analisis Bacaan
1. Persamaan dan Perbedaan antara Organisasi dan Birokrasi
a. Persamaan
Sama-sama memiliki tujuan yang jelas
Disini Organisasi adalah LSM dan Birokrasinya adalah Negara atau pemerintah,, LSM dan Pemerintah disini sama-sama memiliki tujuan yang jelas yaitu untuk menyejahterakan Masyarak
Sama-sama memiliki aturan
lSM dan Pemerintahan sama-sama memiliki aturan baik itu tertulis maupun tidak tertulis yang mencakup dan menjadikan para anggotanya ikut berpartisipasi aktif dalam menjalankan tugasnya.
Sama-sama terdeferensiasi
LSM dan Negara telah memiliki struktur dan hirarkis kepemimpinan yang jelas dan telah mengabdikan dirinya untuk melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin.
b. Perbedaan
Tujuan Pembangunan
Pemerintah sebagai Birokrasi memiliki tujuan pembangunan yang jelas yaitu lebih ke infrastruktur sedangkan LSM lebih kepada pemenagemenan Sumberdaya Manusia
Berdasarkan Sifat
Pemerintah bersifat TOP Down dan Birokratisme sedangkan LSM bersifat partisipatif dan debiokratis
Pengkajian
Pemerintah lenih mengurusi kebijakan secara umum (peran kurang mendalam),sedangkan LSM mengkaji secara spesifik dan mendalam
Sumber Dana
Pemerintah atau Birokrasi sumber dananya sudah menetap sedangkan LSM tidak.
Lama Pemprosesan
Organisasi lebih cepat prosesnya dari pada birokrasi
2. Pengertian Birokratisme
Birokratisme adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh suatu birokrasi yang tidak sesuai dengan prosedure dan norma yang sebenarnya sehingga mempersulit proses birokrasi tersebut (penyimpangan birokrasi) Bukti dari proses Birokratisme itu adalah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah mengeluarkan UU keormasan 1985, tentang lembaga kemasyarakatan, yang seharusnya bekerja dengan lancar tapi malah dipersulit dengan prosedur yang baru.